Rabu, 22 Desember 2010

Sora. . . (Prolog)

Hamparan hijau yang membentang luas, terik matahari yang berkilau bagai berlian, memantul hamparan hijau. Langit biru menghampar dunia tak berpijak serta awan-awan putih yang menyerupai berbagai bentuk bagai kapas empuk dan lembut. Kicau burung beterbangan kian kemari. Hembusan angin menghempas daun-daun berguguran, dan membelai halus luasnya hamparan hijau. Udara sejuk,, menenangkan hati, menjernihkn pikiran. Sungguh tempat yang tak asing lagi untukku. Tawa canda bocah-bocah terngiang jelas ditelinga. Deras air sungai mengalir, mengarungi hamparan hijau. Sungguh sangat harmoni.
Sekilas, dikejauhan aku melihat seorang gadis duduk di bawah pohon nan rindang. Tangan kanannya menggenggam permen lolipop dan tangan kirinya menggenggang sebuah note book kecil, seperti sebuah memo. Gadis itu terlamun memandang langit sesekali memandang sungai. Lama aku memandang gadis itu. Kami sempat saling memandang. Tapi tatapannya begitu kosong tiada ekspresi, dan dia pun mengalihkan pandangan dan kembali memandang langit. Perlahan aku menghampirinya. Gadis itu hanya berpandang tanpa ekspresi ke arahku. Aku duduk di sampingnya.
“Tidak ikut bermain?” tanyaku, Ia hanya menggelengkan kepala. Sesekali ia menulis sesuatu di memonya dan melukis awan. ”Sungai itu terlalu sepi bila hanya dipandang” lanjutku. Ku pandang wajahnya. Pandangan yang begitu kosong, tapi ia bisa memberi sesuatu yg hidup dalam lukisan awannya. Tak ku sadar,, aku benar-benar telah terbius olehnya. Terbius oleh kekosongannya. Bagai memakai perisai. Ia tak membiarkan seorangpun memasuki dunia kosongnya.
“Dari tadi kamu terus memandang langit dan sungai, ku pikir kamu ingin ikut brmain” ucapku berusaha mengalihkan pikiranku agar tak terbius olehnya. Ia tetap tak merespon. Cukuplah,, untuk saat ini aku takkan mengganggunya dulu. Pikirku.
“Ya sudah, aku kembali pada teman-temanku yang sedang memancing dulu. Kalau kamu berubah pikiran, aku menunggumu!” ia tetap memandangku kosong, aku hanya tersenyum kecil. Aku berlari kembali ke arah sungai. Tanpa menoleh ke arahnya. Entah apa yang gadis itu pikirkan. Sorot matanya menandakan kesedihandan begitu kosong.
***
Awan,, akankah kau benar-benar akan membawa mereka kembali?
Aku menanti…
Dan selalu menanti…
Di sini,, tepat dimana tempat yang mereka janjikan padaku…
Karena aku,, hanya dapat berharap padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar