Di Tiap jengkal kehidupan,, sang hujan memang harus tercurahkan.
Kadang hari-hari memang harus dilalui dalam selingkup awan kelabu dan kedukaan…
======>,<=======
Akhirnya hujan mulai reda,, aku membawanya pulang. Wajahnya masih saja pucat. Entah ada apa sebenarnya yang terjadi pada gadis ini. Tiba-tiba air matanya mengalir. Ku usap air mata yang mengalir di pipinya dan ku usap lembut kepalanya. Agar ia tenang dalam tidak sadarannya. Aku menemaninya sejenak,, gadis ini tampak belum sadarkan diri. Aku melihat memo awan di meja. Sebelah tempat tidurnya. Ya, memo awan yang sama seperti yang kami gunakan untuk menulis pesan bila sedang tak ingin bicara. Perlahan ku membacanya. Tak terasa air mataku mengalir. Aku seperti merasakan sendiri apa yang dia rasakan. Penantian seorang gadis berusia 8 tahun selama tujuh tahun menanti kedua orang tuanya kembali ke sisinya.
Tak cukupkah kalian membohongiku?
aku,, terus menunggu ...
dan hanya menunggu.
Tapi tak ada sedikitpun bayangan akan kehadiranmu.
Seorang diri aku menanti,,
Tak lelah...
Karena putihnya awan selalu tenangi hatiku
biarkan aku tersenyum dalam bingkai kekosongan
Ayah,, Ibu... Aku masih di sini...
Tepat di tempat yang kalian janjikan padaku.
Sudah tujuh tahun aku menunggu
Menanti dan hanya menanti...
Mentari t'lah pancarkan sinarnya
Hingga senja kini t'lah menutup hari
Aku masih tetap di sini...
Aku sadar,, ya... kini aku harus sadar
Kalian t'lah brada jauh di sana,,
di tempat yang tak dapat ku jangkau
Cukup sudah ku baca memonya,, ini membuatku sakit. Ku pandangi wajahnya yang belum juga sadarkan diri.
Aku menulis pesan dalam memonya.
Awan,, pandangi dia yang di sana...
pandangi dia dengan hangatnya sang mentari...
Awan,, bawa aku ke sana...
menemaninya,, mencairkan hatinya yang beku...
Awan,, katakan padanya,
Aku menunggunya...
Awan,, berikan derasnya cinta ini...
cinta yang bisa membuat awan ikut menangis terharu...
Dengan gemercik hujan,, pekat awan mendung...
tanda sedihnya hati ini...
tiada pelipur lara...
hanya ada dingin dan sepi...
denganmu,, Awan...
* * *
Semua berakhir di sini. Ketika akhirnya aku harus kembali ke kota tempat tinggalku, tepatnya tempat tinggalku sesungguhnya.
Pagi ini,, gadis itu tak datang. Aneh,, pikiran yang pertama terbersit di benakku. Ia tak pernah absen duduk di sini. Aku duduk menantinya. Satu jam berlalu,, tapi tak terlihat tanda-tanda akan kehadirannya. Dua jam sudah berlalu,, yang tersisa hanya gelisah. Aku mulai lelah, diam dan menunggu seorang diri, tanpa siapapun yang menemani. Ternyata begini rasanya menanti seorang diri. Diam dalam keheningan. Menanti seseorang yang tak kunjung datang.
Tiba-tiba seorang gadis kecil datang menghampiri. Ia memberikan selembar memo bergambar awan. Aku langsung menyadari itu dari siapa. Ya,, ini dari gadis sang penanti.
Ku buka perlahan memo ini.
Maaf,, pagi ini aku tak datang.
Penyakitku kambuh,, trauma akan hujan dan awan hitam...
Titip salam dengan petualanganmu ^_^
Oia,, pesan memomu kemarin...
Aku lebih memilih jadi awan...
tidak menjadi "dia" yang kamu maksud,,
Karena awan yang menyampaikan cintamu pada "dia",
Awan yang mendengar lirihmu, dan
Awan yang temani sepimu...
Aku hanya mengembang senyum kecil membacanya, berpikir sejenak, merangkai kata untuk membalasnya.
Putih,, memang indah...
Walau hitam,, memudarkan indahnya...
Tapi awalnya,, hitam dan putih tercipta dari yang lebih indah... yaitu,,
Pelangi...
Aku berpesan pada gadis kecil itu agar gadis sang penanti membalas dengan cepat. Gadis kecil itu hanya mengangguk polos. Aku menebar senyum kecil dan ku usap halus kepalanya. Gadis itu membalas senyum sebelum berlalu pergi.
Tidak lama menanti,, gadis kecil itu datang dan memberikan memo lagi padaku.
Pelangi,, Me, Ji, Ku, Hi, Bi, Ni, U ??
Indah,, Tapi begitu mengingatnya sangat menyakitkan.
Bagiku,, tetap tak seindah putihnya awan,
berselimut birunya langit...
"huhh..." aku menghela nafas puas.
Waktuku habis,, aku harus pergi sekarang.
Maaf,, ini pesanku yang terakhir.
Aku harus kembali,
tepat dimana kamu menanti penantianmu,, awan putih muncul...
Seperti katamu,, Indah...
Aku menulis atas nama awan putih...
Langit biru yang menyelimuti akan selalu menemaninya...
Kemanapun itu...
Semoga kita dapat berjumpa lagi ^^
Ini yang terakhir kalnya aku menulis memo itu,,
"Huft..." Puas dan lega.
Walau kemungkinan kecil aku akan bertemu dengannya lagi. Tapi tetap menjadi kenangan yang tak dapat kulupakan.
Pelajaran berharga banyak ku temui di sini. Meski menyakitkan,, aku puas.
Gadis kecil itu tersenyum dan memelukku.
"Terima kasih,, kakak dapat membuatnya tersenyum manis..." ucap gadis kecil itu sambil melepas peluknya. Aku hanya tersenyum tipis.
"Maaf ya! aku merepotkanmu."
Gadis kecil itu hanya tersenyum, menggelengkan kepala dan pergi.
Lebih dari setengah jam aku duduk menanti sambil memandangi langit. Gadis kecil itu tak kembali.
Berarti gadis itu tak berniat membalas pesan terakhirku.
Sudahlah,, aku harus cepat kembali dan bersiap pulang ke kota.
Belum jauh aku berjalan, gadis kecil yang dari tadi mengantarkan memo memanggilku. Aku menghentikan langkah dan berbalik menghampiri gadis kecil itu.
Ia mamberikan memo lagi padaku dan berkata " Dia akan merindukanmu..."
Senyum kecil menghiasi wajah manis gadis kecil itu. Ia melambaikan tangannya padaku dan berlari pergi.
Aku hanya menghela nafas puas membaca surat terakhirnya. Ini terakhir kalinya aku memandang awan putih berselimut langit biru yang luas tanpa batas. Tepat di sini,, di tempat gadis sang penanti menanti penantiannya. Sebelum aku benar-benar pergi dari desa ini, izinkan aku menikmati ini sejenak.
* * *
~Flashback~
^Gadis sang penanti POV 7 tahun lalu^
Aku bergegas mengganti baju, menyiapkan beberapa helai pakaian ganti, dan membawa memo awan yang ayah berikan dihari ulang tahunku yang ke 8 kemarin. Senyum menyungging di bibirku. Berlari menghampiri ayah dan ibu di ruang keluarga yang sedang bersiap-siap. Hari ini aku akan pergi berlibur ke rumah nenekku yang berada di daerah pedesaan. Aku senang sekali mendengarnya, karena kami sekeluarga tidak pernah pergi berlibur, ayah sangat sibuk bekerja. Nah karena ayah sedang libur untuk beberapa hari akhirnya kami sekeluaga sepakat berlibur ke rumah nenek. Apalagi yang membuatku bahagia karena ayah berjanji akan membawaku piknik di dekat sawah, membawa kotak makan, bakar-bakar jagung, memencing ikan, bakar ikan dan banyak lagi hal yang akan kami lakukan sesampainya di sana. Wah, membayangkannya saja membuatku tersenyum bahagia. Pasti akan sangat menyenangkan.
"Sayang,, kamu tak melupakan ini 'kan?" ucap ibu membuyarkan lamunanaku. Aku mengerutkan kening dan memandang ibu bingung.
"Ini..." menyerahkan sebuah permen lolipop kesukaanku.
"Ahh,, Lolipopku~" aku senang sekali, lengkap semua persiapanku.
Tak lama kami bergegas pergi. Aku memandang pemandangan indah dari jendela mobil. Tak lepas-lepasnya pandanganku di luar jendela. Sejauh mata memandang bukit-bukit menjulang, pesawahan, kebun teh, dan yang lebih indah adalah gumpalan awan putih yang begitu pekat berselimut birunya langit terbentang tanpa batas. Ayah dan ibu hanya tersenyum melihat kepuasanku.
Tiba-tiba cuaca buruk. Mendung dan awan menjadi hitam pekat. Aku hanya cemberut sedikit kecewa. Ibu hanya menggelengkan kepala melihat bibirku menyungging cemberut.
"Hm... anak ayah kenapa? masa hanya karena cuaca mendung jadi ikut mendung juga sih?!" sindir ayah.
"Aku benci mendung, yah! Apa lagi awan hitam."
"Hust,, jangan begitu, sayang! Harus bersyukur. Kan ada pepatah 'habis mendung terbitlah terang' jadi jangan sedih lagi ya!" ibu menenangkan aku yang masih saja cemberut.
Aku kembali memandang awan mendung dari dalam kaca jendela mobil. Begitu pekat hitamnya. Sangat menyeramkan.
Entah apa yang terjadi, sepertinya aku mendengar jeritan keras. Dan juga bunyi seperti benturan dua benda yang sangat keras dan juga suaranya sangat memekik telinga. Ya, sepertinya aku masih sadar. Ini sebuah kecelakaan. Yang aku tau sangat jelas ini mobil kami yang bertabrakan. Ah,, tiba-tiba aku merasa sangat pusing. Kepalaku sakit. Sepertinya ada yang mengucur dari keningku. Darah. Membuatku shok dan berusaha dapat melihat dengan jelas. Ku kejap-kejapkan mataku karena penglihatanku mulai buram, ku pijat-pijat kepalaku karena pusing yang begitu menyiksa otakku.
"Ayah... Ibu..." desahku lirih.
Aku berusaha meraih jok tempat duduk ibu dan ayah di depan. Pandangan ku masih buram dan gelap. Dalam pandangan buram aku hanya melihat kening ibu yang berdarah dan ibu tak sadarkan diri.
"Ibu... Ibu..." aku berusaha memanggilnya, mengguncang-guncang tubuhnya di sela-sela isak tangisku yang mulai menjadi-jadi.
Aku beralihkan pandangan ke ayah. Ayah terselungkup kepalanya di atas setir menghadap luar jendela. Aku mengguncang-guncang tubuh ayah. Berusaha membuatnya bersandar pada kursi jok. Begitu bersandar aku kaget melihat keadaan ayah yang lebih mengenaskan. Kening dan pipinya kirinya sudah bergelinang darah.
"Ayahh~" teriakku shok.
Ini membuatku tambah pusing. Pandanganku yang buram mendadak gelap. Tapi aku masih merasa sadar. Aku berusaha duduk lagi di kursi jok ku dan mencoba membuka pintu mobil. Aku keluar mobil. Tubuhku begitu lemas, kepalaku sangat sakit. Hingga tubuhku langsung terhempas jatuh ke jalan. Tergeletak dengan posisi terlentang.
Yang kurasa hanya derasnya hujan membasahi tubuhku yang terkujur lemas. Terasa jelas darah di keningku terhempas bersama air mata dan hujan yang mengalir di wajahku. Perlahan aku dapat melihat. Walau samar-samar dan kabur. Tau apa yang ku lihat. Pekatnya hitam awan mendung. Gemuruh suara petir dan kilat yang semakin memekik telingaku.
Entah apalagi yang terjadi. Tiba-tiba semua gelap dan aku tak ingin sadar apa yang sebenarnya terjadi. Hanya ketakutan yang membawaku hingga kini.
Dalam gelap aku seperti mendengar suara ibu dan ayah.
"Kamu harus bangun, sayang!" itu suara ibu.
"Awan putih berselimut langitnya biru akan selalu menyertaimu dan menjagamu. Sekarang, bangunlah!" dan itu suara ayah.
"Ayah~ ibu~" terbelalak aku bangun dengan kaget. Yang kulihat hanya ada nenek dan bibi di samping ranjangku.
"Kamu sudah sadar, syukurlah..." nenek tersenyum.
Entah mengapa senyumnya dapat menenangkan hatiku yang resah.
Dokter memeriksa keadaanku yang baru sadarkan diri. Ternyata aku sudah 3 hari pingsan.
~ ~ ~
"Ayah dan ibu kemana?" tanyaku polos.
"Mereka pergi, ada urusan. Mereka menitipkan kamu untuk tinggal bersama nenek." nenek tersenyum.
Aku hanya diam.
"Kamu mau piknik di desa nenek kan? besok, setelah keluar dari rumah sakit kita piknik ya!" lanjut nenek, kembali menebarkan senyumnya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil.
Nenek mengusap-uasap halus kepalaku hingga aku terlelap.
Besoknya seperti yang di janjikan nenek mengajakku piknik. Kami membawa kotak makan bekal untuk makan siang, gelar tikar, pamanku memancing ikan, bibiku menyiapkan kayu bakar untuk membakar ikan. Ya, seperti yang ku bayangkan. Hal yang sudah lama ku nanti-nantikan. Tapi,, seperti ada yang mengganjal dalam hatiku. Ada perasaan tak puas dalam benakku. Mungkin karena sebenarnya aku berharap melakukan ini semua bersama ayah dan ibu.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku? apa yang membuatku berada di rumah sakit kemarin? kenapa aku sampai pingsan 3 hari? kenapa ayah dan ibu pergi disaat mereka tau aku sakit? mereka tidak mungkin membiarkan putri semata wayangnya masuk rumah sakit dan mereka pergi tanpa mengkhawatirkanku. Ada apa ini sebenarnya?. Pertanyaan demi pertannyaan semakin memenuhi otakku. Penat rasanya.
Sebagian dari diriku ingin aku mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi, sebagian dari diriku lagi melarangku untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Semakin membuatku galau. Kepalaku mulai pusing. Sakit sekali rasanya. Ini semua begitu menyiksaku. Sehingga tiba-tiba semua tampak gelap. Dan aku tak sadarkan diri.
Dalam pekatnya gelap aku menangis lirih. Semua tampak membingungkan. Hatiku begitu sakit seperti tercabik-cabik oleh sesuatu yang tak ku mengerti. Tiba-tiba secercah cahaya benderang. Seperti mengarahkan jalan menuju tempat yang terang dan putih. Perlahanku berjalan. Aku seperti mendengar bisikan.
"Bangunlah, bangun!" itu suara nenek. Ya, jelas sekali itu suara nenek.
Aku menutup mataku dan berusaha berjalan ke sumber suara.
Perlahan ku buka mata. Entah aku berada di mana. Aku merasa sangat kosong. Air mata mengalir di pipiku, tanpa ku tau apa sebabnya.
Nenek tersenyum lega. Mengusap air mataku dan mengusap halus kepalaku. Aku merasa sedikit tenang.
"Aku ingin ayah dan ibu" rengekku tiba-tiba.
Tanpa menjawab nenek hanya tersenyum.
"Kamu tau tempat kemarin? Tepat di bawah pohon nan rindang. Tunggulah ayah ibumu di situ. Itu satu-satunya tempat yang dapat melihat keseluruhan indahnya desa dan awan putih yang kamu sukai. Tunggulah mereka di situ karena itu tempat yang mereka janjikan padamu kan? Bawalah memo awan yang diberikan ayahmu dan permen lolipop yang kamu sukai itu setiap pergi ke sana." ucap bibi ku padaku.
"Benarkah??" aku mencoba meyakinkan apa itu benar. tanpa curiga aku membenarkan pernyataan bibi.
"Tidak,, kamu hanya boleh menunggu ayahmu di rumah. Keadaan masih lemah." nenek mencoba melarang dan menyangkal halus.
"Tidak apa-apa nek, itu memang tempat yang ayah dan ibu janjikan padaku. Jadi aku harus menunggu mereka di sana." aku berusaha meyakinkan nenek kalau semua benar dan aku akan baik-baik saja. Aku tersenyum puas.
Nenek hanya tersenyum dan mengusap halus kepalaku.
Besok paginya aku bergegas ke tempat itu. Menanti dan hanya menanti dan hanya menanti aku di tempat ini. Pemandangan indah di setiap mata memandang. Tapi mataku hanya fokus pada indahnya langit, tepatnya pada awan putih berselimut birunya langit. Begitu menenangkan hatiku. Memo awan yang ku bawa selalu ku isi dengan lukisan awan dan pesan-pesan yang ingin aku sampaikan pada ayah dan ibu.
Ayah,, ibu...
Ini hari pertamaku menanti kalian.
Tepat di tempat yang kalian janjikan padaku.
Aku senang sekali begitu tau kalian pasti datang.
Awan dan langit di sini sangat indah
Bila aku berbaring di sini,,
yang kulihat hanya bentangan awan putih berselimut langit biru yang luas tanpa batas...
Aku ingin sekali menikmati ini bersama kalian...
Aku akan terus menanti,, menanti dan menanti...
hingga kalian datang dan kita menikmati ini bersama^_^
Hari berlalu begitu cepat, setiap pagi saat mantari mulai memancarkan sinarnya hingga senja menutup hari, aku hanya menanti dan menanti. Pengharapanku begitu bulat.
Kadang orang-orang yang ku temui heran melihatku setiap hari menghabiskan waktu di sini. Dengan lantang yang ku bilang hanya...
"Aku menanti ayah dan ibuku..."
Aku selalu lega setelah bilang seperti itu. Senyum menebar di bibirku.
Hari-hari ku lalui dengan begitu semangat. Walau nenek kadang melarangku untuk ke tempat itu. Tapi aku berusaha meyakinkan nenek dan menebarkan senyumku. Nenek hanya tersenyum terpaksa.
Sudah 2 tahun berlalu, aku masih bersemangat menanti kedua orang tuaku kembali ke sisiku. Di sini, di tempat yang mereka janjikan padaku. Masih bersama memo awanku dan permen lolipopku. Dan juga pandanganku yang tak pernah teralih dari awan-awan putih berselimut biru langit.
Beranjak 3 tahun berlalu aku menanti orang tuaku, tiba-tiba hal buruk terjadi. Nenekku meninggal. Aku begitu galau. Semua mendadak berubah. Hidupku terasa kosong. Aku tak bisa menikmati penantianku lagi di tempat itu. Semua terasa kosong dan asing. Hanya memandang awan putih berselimut langit biru yang dapat menenangkan resahnya hatiku.
Tapi aku terus saja menanti. Entah mengapa ada perasaan yang berusaha meyakinkanku bahwa aku harus tetap menunggu di sini.
~end flash back~
* * *
Tiga tahun berlalu hingga aku kembali ke desa ini. Tak banyak berubah. Hamparan hijau yang membentang luas, pohon-pohon yang rimbun dan lebat, burung-burung yang berkicau kesana-kemari, dan juga suara deras aliran sungai yang mengalir. Sampai wangi desa ini yang melekat di penciumanku juga tak berubah. Sama seperti saat baru pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Semua begitu harmoni.
Aku jalan menyusuri tempat-tempat kenanganku dengan 'gadis sang penanti'. Terbayang kembali sosoknya. Pandangan kosongnya saat pertama bertemu. Senyum pertamanya yang mendebarkan jantungku, yang dapat membiusku tak dapat mengalihkan pandangan.
Ku bercerita dalam hati kecilku tentang masa indah bagiku. Ku teringat dirinya,, menyesakkan dada,, mengejutkan adrenalin,, menyilangkan senyumku...
Ku buka perlahan memo terakhir gadis sang penanti itu. Ku baca kembali.
Apa aku memang ditakdirkan menjadi "gadis penanti" ?
Apa kamu tak kan kembali,
seperti orang-orang yang telah meninggalkanku?
Apa aku harus tetap menunggu???
Seperti sang awan yang yang menanti gilirannya,,
berputar mengelilingi dunia...
Aku melihat,, sang gadis duduk dengan berjuta harapan. Menanti datangnya penantian. Menatap awan dengan penuh rasa kekaguman. Senyuman manis terlihat jelas di bibirnya. Senyum yang selama ini dapat membiusku. Ya,, dia adalah gadis yang ku rindukan selama tiga tahun ini. 'Gadis sang penanti'...
Aku menghampirinya perlahan.
"Aku datang... gadis penanti..."
==========================END===============================