Jumat, 24 Desember 2010

Sora (part 2)

       Sebenarnya aku baru 1 minggu tinggal di desa ini, karena ayah ada tugas meneliti pertanian di sini. Karena aku mudah beradaptasi, aku sudah banyak mengenal orang-orang di sini. Desa ini penuh dengan kejutan, banyak mengajarkan kehidupan padaku. Termasuk gadis yang ku temui ini, sangat manis walau penuh misteri.
            Pagi hari,, saat matahari baru memancarkan sinarnya. Aku dan gadis sang penanti ini hanya duduk di atas rerumputan liar, di tempat biasa, di bawah pohon yang rindang. Terik matahari memantulkan kilau hijau dedaunan dan jernihnya sungai. Mata sang gadis tertuju pada langit biru berombak awan-awan putih. Sesekali senyum kecil terlihat dari bibirnya. Menatap puas  serta kagum. Dan akhirnya aku tau kenapa ia selalu membawa memo bergambar awan. Aku mengambil memo itu dari tangannya, ku dambar awan dan ku tulis.

Awan itu Putih. . .

Ia tampak heran membacanya, Lalu memnbalas menulis.

Apa maksudmu?

Cerah,, seperti hatimu kini ^_^. . .

Ia hanya tersenyum.

Awan itu,, kenapa bentuknya berubah-ubah dan berbeda-beda?

Tanyanya masih menulis di memo awan.

Karena awan terbawa oleh angin yang membawanya menemukan dirinya… Kita juga berbeda-beda bukan? Tak satupun dari kita sama. Maka, awanpun menyerupai yang berbeda-beda.

Jawabku. Kali ini ia tak berniat membalas memoku. Wajahnya hanya memandang awan-awan itu dengan rasa kagum.
Lama keadaan hening, hingga tiba-tibai ia memulai pembicaraan.

“Apa impian sang awan?” gadis ini bertanya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.

“Entah,, mungkin keliling dunia… Sang awan menanti ketika dirinya terhempas hembusan angin, mengikuti arus dan terpenuhilah impiannya.” Jawabku.

“Apa ia tak bosan? Bergerak pasrah,, menanti terwujudnya impiannya. Yang entah kapan kan 
terwujud…”

“Tanyakan saja pada dirimu sendiri,, bukankah kamu sama seperti awan itu dan kamu lebih mengetahuinya dari siapapun…” Sindirku halus.

Aku memandangi wajahnya. Gadis itu hanya diam tanpa kata. Wajahnya masih tertuju pada awan-awan yang perlaha-lahan bergerak mengikuti arah angin.

Beberapa hari telah berlalu, kami lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk tenang menatap awan-awan putih itu dan berkomunikasi lewat memo awan ini.

Kini, pagi tak secerah yang lalu. Mendung.

Aku tak suka awan hitam =(

Wajahnya tampak murung dan tak semangat untuk senyum. Layaknya awan pagi ini.

Apakah awan hitam menandakan hatimu?

Tanyaku menulis dalam memo awan.

Awan hitam mengingatkan ku dengan hal-hal yanng ku benci,,
Memori masa lalu yang sangat menyakitkan, dan
Meninggalkan bekas luka yang tak ingin ku ingat…

Jawabnya. Kali ini gadis ini menulis lumayan panjang.
Ku usap halus kepalanya., ku buat sediit tenang.

Di Tiap jengkal kehidupan,, sang hujan memang harus tercurahkan.
Kadang hari-hari memang harus dilalui dalam selingkup awan kelabu dan kedukaan…

Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, Air mata mulai membasahi pipinya. Tapi ia tidak ingin memperlihatkannya padaku. Mungkin ini mengingatkan pada masa lalu yang menyakitkan.
            Benar saja, tak lama hujan turun dengan derasnya. Membanjiri hamparan hijau, membuat tanah becek dan berlumpur. Akudan gadis ini berteduh di bawah dusun bambu.
Wajah gadis ini tampak pucat, dingin dan gemetar. Ia sungguh menyimpan ketakutannya akan hujan jauh dalam hatinya. Mungkin kini ia tak sanggup lagi menyimpannya. Seperti terbelenggu oleh dua hal yang menyakikan. Masa lalu dan Impian…

“aahhhkkkggghh………..”

Tiba-tiba ia berteriak histeris,, lalu tak sadarkan diri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar