Rabu, 01 Desember 2010

Hitori* (Alone)

Aku yang terdiam hampa dalam kesendirian...
Biarkan dirimu tersenyum bahagia, menyambut sang mentari datang.
Aku yang berada semakin jauh denganmu,,
hanya dapat menatapmu dengan tatapan kosong...


tak ingin menyakiti,,
dan juga tersakiti...
biarkanlah waktu yang kembalikan ku pada ketiadaan...


Part 1.

     Langkah demi langkah ku berjalan, tiada arah, pandangan kosong. Mungkin untuk gadis seumuranku orang menganggap aneh berjalan seorang diri di tengah gelapnya malam. Keramaian acuhkan langkahku. Dinginnya malam tak hentikan langkahku. Bahkan ketakutan juga tak dapat menghentikanku.
    Geram,, aku benci pada diriku sendiri. Tolong biarkan aku menghilang! untuk malam ini dan untuk selamanya. Aku diciptakan hanya selalu menyakiti orang, dan juga tersakiti. Aku ingin kebahagiaan yang ku berikan, tapi tiada guna diriku. Dalam keadaan yang seperti ini aku selalu ingin menangis. Merasa diriku menyedihkan. Tak tau harus berbuat apa.
       Jalan yang ku lalui semakin sunyi, yang terdengar hanya langkah kakiku seorang. Aku bukan merasa takut dengan suasana ini, melainkan semakin merasa kalau aku hanya seorang diri. Bahkan keramaian pun enggan menemani kesendirianku. Desah hembusan angin tenangkan resahku. Seakan menyuruhku untuk sejenak menjernihkan pikiran. Mungkin memang hanya alam yang dapat membuat keadaanku lebih baik.
        Aku berjalan. Menelusuri jalan yang penuh keheningan. Tak sadar langkahku berjalan menuju pulang. Terhentilah di depan pintu pagar rumahku. Aku berjalan terus, tak pedulikan kepanikan orang rumah bertanya-tanya atas kepergianku. Masuk kamar dan kunci.Tak ku biarkan siapapun mengusik kegalauanku. Ku rebahkan tubuhku di kasur. Berharap mimpi dapat membawaku menghilang bersama semua ingatanku.
. . .
"Kau tidak sendiri!" seorang laki-laki berbicara padaku.
Aku berada di sebuah taman yang dipenuhi kebun bunga dan keramaian anak-anak. Mereka semua terlihat sangat lepas mengekspresikan sikap mereka. Begitu ceria dan sangat bahagia. Aku tak dapat melepaskan pandanganku pada mereka. Hanya berpikir ingin seperti mereka yang begitu bahagia. Tersenyum dan tertawa. Dahulu aku juga sebahagian mereka, sebelum aku mengenal kehidupan luar yang "menakutkan"dan berliku. Tiba-tiba teringat suara laki-lagi yang tiba bicara tadi. Aku menoleh ke belakang. seorang laki-laki duduk di bawah pohon. Wajahnya tak terlihat jelas. Terhalang sinar matahari yang begitu terik bersinar dari arah di balik pohon yang lebat. Aku hanya memandangnya bingung sambil mencoba melihatnya dengan jelas karena silau.
"Kau pasti tidak dapat melihatku dengan jelas karena silaunya sinar matahari yang terik ini?" tebaknya, sambil berjalan menghampiriku. Aku mulai dapat melihatnya dengan jelas. Wajahnya seperti tak asing, tapi aku tidak tau siapa. Dia hanya tersenyum dan duduk di sampingku. Untuk sejenak keadaan hening. Hanya menikmati tawa riang anak-anak dan harmonisnya tempat ini. Ku coba menyadarkan diriku. Ini pasti hanya mimpi. Tapi biarlah, walau hanya mimpi aku ingin menikmatinya.
"Ini hanya mimpi kan?" tanyaku pada laki-laki itu.
"hm..." ia hanya menganggukan kepala "kalau kau hanya berpikir ini hanya mimpi, biarlah hanya menjadi mimpi." Dia tiba-tiba berdiri. Memandangku sejenak. Dan mengulurkan tangannya, tersenyum dan berkata.
"Biar ku buat menjadi nyata!"

*    *    *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar