Jumat, 24 Desember 2010

Sora (Part 1)

Esoknya,, seorang diri aku berlari ke tempat gadis itu biasa duduk, menghabiskan waktunya seharian hanya duduk termangu. Dari terbentangnya terik mentari,, hingga senja menutup hari. Di tempat itu, di bawah pohon nan rindang. Benar saja, hari ini pun ia tetap duduk termangu di tempat itu. Aku berjalan perlahan menghampirinya yang sedang asyik memandang langit pagi.
“Hei, apa aku mengganggumu?” tanyaku perlahan. Seperti biasa iya tak bicara, hanya menggelengkan kepala tanda tidak. Aku duduk d sebelahnya. Ku pandangi wajahnya sejenak.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku lagi.                                                                          
“Menanti…” jawabnya singkat. Ini pertama kalinya ia bicara padaku, walau singkat dan membingungkan.
“Menanti apa?? Menanti sesuatu yang tidak pasti??” lanjutku bertanya sedikit bergurau.
“Mungkin…” jawabannya yg  singkat ini dan membuat raut wajahnya kembali kosong, memandang lurus ke depan tanpa ku tau apa yang ia lihat. Kali ini aku merasa sedikit merasa bersalah membicarakan ini.
“Maaf…”
Aku terdiam, memikirkan hal apa yang bisa membuatnya tak sedingin ini. Dan mencari obrolan yang kira-kira menyenangkan. Sesekali aku bicara, tapi ia tetap tak merespon. Hanya terus memandang langit yang cerah dan mulai terik. Aku melirik pada lolipop yang dipegangnya erat, belum dibuka.
“Untukku ya!” pintaku tersenyum dengan wajah kekanak-kanakan. Tanpa bicara ia menyerahkan lolipopnya untukku. Tak lama ia merogoh saku tas kecilnya dan mengambil satu lolipop lagi. Aku tersenyum padanya. Ku buka bungkus lolipop dan mengemutnya perlahan. Di antara kami hening sejenak. Hanya terdengar deru air yang mengalir. Dan hilir angin menghembus halus daun-daun yang berguguran. Sepertinya aku mendapat inspirasi sesuatu.
“Ayo, ku tunjukkan sesuatu hal yang menarik!”
Ku genggam pergelangan tangannya. Wajahnya tampak bingung dan hanya mengerutkan keningnya. Ku bawa ia berlari.
Sungai adalah tempat pertama yang ku kunjungi bersamanaya. Di sungai ini hanya ada ikan-ikan kecil. Arus yang tak begitu deras, jernih dan dingin. Sungguh tempat yang nyaman untuk merefresh pikiran. Aku mengajaknya bermain air. Awalnya ia hanya diam, memandangi kedalaman ikan yang berenang di air yang dangkal ini. Kami hanya duduk di pinggiran sungai. Aku sedikit menciprat-ciprati air ke wajahnya. Ia hanya mengedip-kedip matanya menghalangi air yang masuk ke matanya. Dia mulai tersenyum dan mendorongku halus memberi tanda agar aku menghentikan mencipratinya air. Senyumnya manis. Aku sedikit puas bisa membuatnya tersenyum. Akupun mengembangkan senyumku. Ku pegang tangannya dan kami terus berjalan. Tempat kedua, kami mengitari hamparan hijau yang membentang luas. Tanah yang berlumpur ku membuat tidak leluasa berjalan. Kesempatan ini ku gunakan untuk bermain. Aku mengambil segenggam tanah liat dan ku bentuk menyerupai hewan. Dia tertawa karena melihat jadinya jelek. Senyum serta tawa telah menghiasi wajahnya. Aku tidak melihat sorot mata kesedihan lagi di wajahnya. Lagi-lagi aku terbius olehnya. Tak hanya kekosongannya saja yang mampu membiusku, tapi senyum tawanya juga dapat membiusku . Aku sedikit puas, walau ia belum mau bicara banyak padaku.
            Kami berhenti di tempat semula. Ya, tempat dimana gadis sang penanti ini duduk menanti penantiannya. Gadis ini melamun memandangi langit biru, raut wajahnya berubah lagi. Aku tak sanggup memasuki lamunannya. Hanya terdiam memandangi wajahnya.
“Kamu belum mau bicara?” tanyaku, mulai membuka pembicaraan.
“Aku akan menunggu sampai kamu ingin bicara.” Lanjutku
Gadis itu hanya tersenyum., memnandakan ia mendengar ucapannku.
“. . . tujuh tahun sudah aku menanti. Menanti orang tuaku yang tak kunjung datang. Ahjumma (bibi) bodoh… Ahjumma bilang, kalau aku terus menunggu orang tuaku di sini dan membawa lolipop ini mereka akan datang…”  jelasnya lirih,, aku sebenarnya tak tega membiarkannya menceritakan hal yang menyakitkan untukya. Ingin sekali aku memeluknya, tapi ku urungkan niatku.
“Aku juga bodoh… padahal aku tau itu semua bohong tapi aku tetap melakukannya. Seperti yang kamu bilang,, menanti sesuatu yang tak pasti…” lanjutnya. Kami saling berpandangan. Dia memandangku begiu dalam, seolah memintaku untuk memasuki ‘dunianya’.
“Sampai kapan kamu akan menanti?”
“Entah, mungkin sampai aku lelah…”
“Bodoh…” ucapku dingin. Gadis itu tetap memandangku.
“Sudah, berhenti memandangku!” ku alihkan kepalanya dari pandanganku.
“Kalau ingin menunggu, biar aku temani…” lanjutku.
Ku genggam tangannya dan membawanya membawanya berlari di hamparan hijau yang luas. Hingga tak terasa senja telah tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar